Indah pada waktunya
Diadopsi dari bab 17 novel “Cinderella in Paris" karangan Sari Musdar
Kenapa ina ngambil judul itu ? yaps, ini adalah judul bab ke-17
pada novel “Cinderella in Paris” yang ina baca. Hmm sengaja nih ina ngambil
judul ini karena kata orang nih ya, kata pertama yang kita lihat akan langsung
kita simpan baik baik di otak. jadi kalo kata yang kita lihat atau dengar itu
berupa kata kata yang baik kita akan terdoktrin yang baik baik. Sebaliknya jika
dari awal kita melihat atau mendengar kata yang kurang baik, maka sepanjang itu
yang kita pikirkan akan berlanjut baik. Kembali ke cerita di novel ini. Awalnya
pas nglihat buku di rak “best seller”, pandangan pertama langsung tertuju ke
novel ini. Bisa ditebak dari cover, selain karena softcovernya yang berwarna
pink, gambar covernya pun seorang wanita fashion style gitu lha. Ditambah lagi
judulnya yang “Cinderella in Paris”, Pariiis sist Pariiis. Setiap kaum hawa
yang mendengar kata itu pasti langsung ngayalnya setinggi menara Eiffel di Paris.
Bisa bermesraan di bawah menara Eiffel malem malem berdua sama doi abis gitu tuker
cincin bak selebriti ternama (baca : ngimpiiii). Hmm itu alasan ina kenapa
walaupun sudah muter muter mengunjungi ratusan rak di toko buku ini,tetep aja
pada akhirnya menjatuhkan pilihan pada buku ini.
Sesampainya dirumah, buru buru deh buka plastik yang masih
nempel di badan novel. Awalnya ina ragu bakalan ngabisin nih novel berapa abad,
karena emang gak hobi baca. Mulai hobi baca semenjak punya murid seorang penulis
yang gemar beli novel dan isi dari novel tersebut kebanyakan so sweet so sweet dan
bisa dibaca ending dari cerita tersebut (baca : novel teenlit) . ternyata
setelah dibaca, Cuma butuh waktu 2 hari buat ngabisin nih novel. Selain nganggur
dirumah karena lagi liburan, ceritanya juga bikin penasaran sampai sampai
mbacanya gabisa ditunda.
Awalnya sih ngira kalo buku ini itu bercerita tentang si makhluk
jomblo yang bakalan ketemu pengerannya di tengah pesta malam dan harus buru
buru balik sebelum jam 12 malam karena kalo enggak buru balik bakalan hilang
kesempatan buat kencan dengan pangerannya. Ternyata apa yang ina pikirkan ga
sesuai sama isinya.
Di buku ini mengisahkan perjalan hidup Saras, seorang anak ke 4
dari 5 bersodara yang usia nya menginjak kepala 3 dan tak kunjung dapat jodoh
juga. Segala cara telah dilakukan mulai dari blind date dengan orang dari
berbagai negara, pergi ke paranormal karena mengingat dulu kakaknya pernah
dipelet seorang bawahannya sehingga dia tidak bisa menikah dan pada akhirnya
menemukan titik terang setelah pergi ke ‘orang pintar’ tersebut, menemui seorang
ahli pembuka aura sampai berkonsultasi ke Suhu Ying atas saran mbak Narandita. Namun
apalah artinya jika Allah belum berkendak. Ina salut dengan Saras yang walaupun
sudah tertekan dengan omongan orang sana sini yang selalu menanyakan kapan
nikah, belum lagi frenemy alias sahabat yang sukanya nikung teman sendiri dan
bahagia ngelihat temennya menderita. Bagi ina, ga masalah sih kalo istilah
orang jawa ngalor ngidul dirasani uwong. Asalkan gada yang namanya frenemy. Mending
bener bener punya musuh yang dari awal emang musuh, daripada yang awalnya temen
tapi karena dia hanya mikirin kebahagiaannya sendiri tanpa mikirin sahabatnya
main tikung menikung. Atas ikhtiar dari Saras yang ga pernah nyerah buat
dapetin jodoh, walaupun beberapa kali sempat deket dengan seorang lelaki dan sudah
sempat menaruh harapan yang pada akhirnya menghilang entah kemana, di bab yang
awal ina sebut yaitu bab 17 “Indah pada Waktunya” lha kebahagian Saras baru
ditemukan.
Mungkin dari kisah Saras ini kalian semua bisa belajar. Jangan jadikan
umur itu desakan untuk menikah. Jangan peduliin omongan orang. Yang ngejalanin
kan kita sendiri bukan mereka. Percuma kalo buru buru nikah tapi cepet juga
pisahnya (naudzubillah). Cukup percaya pada Allah, bahwa kita di dunia ini
diciptakan berpasang pasangan. Dan itu sudah tertulis jelas di Lauh Mahfudz. Jadi
kita ga perlu kawatir bakalan ngejomblo seumur hidup sampai harus tikung
mnikung teman segala. Yang ada malah kita bakalan kehilangan sahabat hanya
karena lelaki yang belum pasti akan menjadi jodoh kita. Gunakan waktu yang ada
sebelum kita bertemu jodoh kita untuk memperbaiki diri, berkumpul bersama orang
orang terkasih seperti keluarga, sahabat, serta orang orang disekeliling kita. Karena
saat kita sudah berkeluarga nanti, intensitas kita bersama mereka akan
berkurang karena kita sudah mempunyai dunia yang baru.


